Rakornas IMM: Meniti Gerakan IMM Masa Depan

Rakornas IMM: Meniti Gerakan IMM Masa Depan

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai salah satu organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah yang bergerak dalam lingkup kemahasiswaan, keagamaan, dan kemasyarakatan. Tantangan besar bagi IMM menjelang RAKORNAS di Bali 16-18 Januari 2025, ialah bagaimana IMM mampu mengelola kekuatan sumber daya yang mumpuni. IMM memiliki modal sosial di masa depan berdampak nyata bagi kemajuan bangsa dan mampu memaksimalkan Generasi Emas 2045.

Rakornas IMM mendatang, dihadapkan pada peluang yang amat menjanjikan sekaligus membuka peta tantangan anak muda di masa depan. IMM dari setiap provinsi di Indonesia akan berkonsolidasi, menggagas dan merevitalisasi ide besar gerakan. Namun, sebelum salah satu dari sekian banyak ide itu, agaknya bangunan nilai dasar ber-IMM perlu menjadi spirit kader dalam mensukseskan Rakornas IMM mendatang.


Eksistensi Trilogi IMM
Keagamaan, Kemahasiswaan, dan Kemanusiaan adalah trilogi IMM, mengantarkan keutuhan religiusitas, intelektualitas, humanitas. Nilai yang khas pada kepribadian kader ini, sejatinya pula merupakan visi besar; kemanusiaan universal, dan Memajukan peradaban. Selayaknya karsa dalam Mars IMM “Penyambung Hidup Generasi”. Hal tersebut yang menjadi kepribadian kader IMM, sudah cukup membawa misi pelayaran besar IMM di masa depan. Bergandeng tangan mewujudkan umat Islam yang sebenar-benarnya dan menjalankan nilai kemanusiaan semesta.

Jejak langkah ini tentu akan menghadapi “Ngarai” yang tidak berkesudahan. Menjalankan roda organisasi internal, antisipasi dinamisnya zaman, dan kompleksitas dakwah. Trilogi yang telah menjadi nilai, mengejawantahkan diri menghadapi tantangan ini. Ejewantah religiusitas IMM tertetak pada sifat yang membentuk sikap, dan gerakan yang dihadirkan. Tentu, referensi utama kepribadian ini adalah Rasulullah. Prinsip utama ditegaskan dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah Pasal 2 Ayat 1. Kini problematika keagamaan dan implikasinya di masa mendatang, adalah kelesuan beragama anak muda.

Elit institusi agama terang-terangan berperilaku eksploitatif, menciptakan fanatisme buta. Fenomena ini mendorong sikap ketidak percayaan kepada agama. Tantangan keagamaan itu, salah satunya dijawab dengan paradigma keagamaan yang inklusif. IMM mempunyai cukup bekal implementatif terhadapnya, menghadirkan Islam yang Rahmatan Lil Alamin, menekankan kemanusiaan, menciptakan kebermanfaatan universal. Atribusi intelektualitas IMM menyokong keberhasilan inklusifitas dakwah. Penguasaan akademik yang cukup, kerja-kerja riset, produksi kekaryaan, menciptakan status sosial yang terpercaya.

Misi intelektual yang dijalankan berkesinambungan itu sekaligus memperkokoh cita-cita mencerdaskan bangsa. Pada upaya merespon gejala sosial masyarakat, perubahan diwujudkan dengan struktur dan fungsi sosial, begitu tesis Emile Durkheim. IMM sebagai organisasi, berperan signifikan mendorong siklus ini, organisasi yang besar dengan kualitas kuantitas sumber daya manusia, menempatkan IMM pada struktur sosial sentral. Penguasaan akademik meratifikasi IMM pada hubungan sosial yang berpengaruh; menciptakan dan kecerdasan adaptasi. Keberadaan struktur sosial ini, yang kemudian oleh Emile Durkheim dijelaskan memiliki fungsi sosial (Struktural Fungsional), mendorong IMM kepada kerja-kerja solidaritas, meningkatkan kesadaran bersama dan status aristokrat ini memaksa IMM menunaikan kewajibannya.

Suluh Gerakan IMM Masa Depan
Setelah Rakornas IMM di Bali mendatang, IMM ditantang untuk membuka peta peluang gerakan kedepan dan menegaskan perannya yang tidak hanya sebagai organisasi simbolik semata, tetapi sebagai gerakan mahasiswa revolusioner yang menghendaki tatanan sosial yang utuh. Persoalan di atas tentu harus di sambut baik pimpinan, karena akan memberi spirit tersendiri bagi IMM Masa Depan untuk melahirkan sebuah formula dalam menjawab persoalan kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karenanya, sebagai bentuk upaya nyata menjawab dinamika dan tantangan zaman tersebut, IMM setidaknya perlu bergerak pada sektor-sektor berikut;

Pertama, dinamika Ikatan-Persyarikatan. Transformasi model Kepemimpinan Ikatan akan mengalami ujian yang besar seiring perubahan realitas zaman. Kondisi masyarakat yang serba realistis, mendorong iklim pragmatis yang kuat tanpa nilai. IMM membutuhkan pola kepemimpinan yang mampu menjawab tantangan ini.
Kedua, perubahan zaman membentuk perubahan generasi. Perlu persiapan matang membentuk performa baru model perkaderan, dinamisasi gerakan, dan tawaran kerja operasional yang baru. IMM membutuhkan agen sosial untuk mobilisasi persoalan tersebut.
Ketiga, masyarakat yang semakin bergeser pada tren tertentu, perlu dibawah pada arah yang lebih jelas. IMM tidak bisa membiarkan perubahan ini dengan tidak menghadirkan kesegaran dakwah. Progresifitas IMM berkaitan dengan bagaimana menjawabnya.
Keempat, persoalan lingkungan membentuk krisis iklim yang semakin parah. Antisipasi gerakan IMM menjawab soal-soal hubungan manusia dengan alam diperlukan segera. Mendorong ekonomi hijau, edukasi yang berbasis sadar lingkungan, hingga aktualisasi mobilitas setiap struktur untuk mengambil peran.
Kelima, sebagai kelompok yang mendeklarasikan diri dekat dengan kebudayaan, IMM harus memastikan konsisten merawat hal itu. Melestarikan, mendukung, dan tidak bersikap distorsi atas kekhasan ini. Upaya IMM menghadirikan gerak kebudayaan, setidak-tidaknya menekan generasi muda yang “fomo” terhadap kebudayaan baru yang merusak generasi muda.
Keenam, guna menjamin terselenggaranya ide dan gagasan besar IMM itu, kolaborasi bersama stakeholder agaknya tepat untuk mempermudah cita-cita IMM kedepan. Gerakan yang dilakukan dengan banyak pihak, memungkinkan tercapainya tujuan lebih cepat. Sikap semacam ini pula yang membuat IMM semakin hari semakin besar, semakin berdampak Di tengah upaya merespons berbagai tantangan yang besar, IMM memiliki tuntutan untuk tetap menjaga muruahnya sebagai gerakan intelektual, sekaligus elemen masyarakat sipil (civil society) yang menjadi penyeimbang negara.

Berdasarkan uraian diatas, IMM sebagai generasi muda Muhammadiyah harus sigap menghadapi kehidupan yang kian pragmatis, menjaga idealisme dan prinsip-prinsip gerakan. Rakornas IMM di bali mendatang adalah momentum menjawab tantangan dan membuka peta jalan gerakan IMM Masa Depan.

Oleh: Rivandy Azhari A. Harahap (Sekertaris Umum DPD IMM D.I. Yogyakarta)

Previous Kuatkan Materi SOP PPKS, DPD IMM DIY Gelar Focus Group Discussion

Ikuti kami di

Jl. Gedongkuning No.130B, Kotagede, D.I. Yogyakarta, 55171

IT DPD IMM DIY © 2024.