Indonesia hari ini berdiri di persimpangan antara bonus demografi dan krisis orientasi moral. Anak muda, yang menjadi lebih dari separuh penduduk negeri ini, hidup dalam paradoks: mereka melek digital namun gagap nilai; terkoneksi secara global tetapi terasing secara sosial. Dunia media sosial melahirkan generasi yang produktif dalam simbol, namun defisit dalam refleksi. Energi kolektif mereka sering terserap dalam budaya “trending”, bukan dalam gerak perubahan yang berkesadaran.
Selengkapnya dapat diakses di sini.