Utilizatorii de mobil vor avea o experiență fluidă cu pragmatic play.

олимп казино best online gambling sites non gamstop casino chicken road aviator game

Hanya Corona Yang Positif

Oleh: M. Hasnan Nahar

Sudah beberapa minggu ini Indonesia diselimuti rasa pesimis, jumlah positif corona trennya semakin naik. Pasien meninggal bertambah lebih cepat meninggalkan angka pasien yg sembuh.

Kondisi ini diperburuk dengan ketidaksiapan pemerintah mengantisipasi wabah. Alih-alih koordinasi ke daerah semakin masif, ternyata di antara bapak-bapak ini hanya ada rasa ingin lebih unggul dan tidak mau kalah. Akibatnya imbauan pemerintah pusat dengan pemerintah daerah sangat kontrdiktif.

Belum lagi nasib masyarakat yang terombang-ambing. Mereka kelompok pertama yang merasakan imbas corona karena risiko penyakit yang tidak mengenal status sosial. Belum masalah keberlangsungan hidup mereka Entah siapa yang akan menjamin selain diri mereka sendiri dan Tuhan.

Di salah satu forum televisi swasta, juru bicara pemerintah dan teman-teman meyakinkan betapa mereka memiliki langkah yang kongrit. Tidak ada pemerintah yang menginginkan rakyatnya sengsara. Tapi bohong. Saya membayangkan frasa itu terucap dalam benak mereka.

Bisa saja mereka berbohong bahwa mereka berpihak kepada masyarakat. Mengetahui kebohongan tidak saja karena ucapannya bohong, namun gelagat pun bisa dijadikan indikator. Kalau tidak percaya, tanyakan kepada Luhut, Terawan, Mahfud MD, dan Wapres. Kenapa mereka? Saya hanya absen saja. Mereka yang beberapa waktu ini sering muncul, kecuali nama yang terakhir saya sebutkan. Saya hanya minta bertanya saja, ya. Jangan tanyakan jawabannya ke saya. Seingat saya solusi yang diberikan pemerintah adalah melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tapi juga boleh mudik bagi yang kangen kampung halaman.

Menjadi pesimis.

Kabar buruk ternyata tidak cukup dari eksekutif saja. Tuan dan puan di legislatif ternyata mengagetkan kita juga. Dibandingkan erupsi Merapi yang beberapa hari ini terjadi, perilaku legislatif kali ini (sudah sering kali) lebih berbahaya. Tuan dan puan memutuskan akan melanjutkan pembahasan RUU Omnibus Law, sebagaimana dilansir beberapa media. Dengan gambar pemanis kelima pimpinan legislatif mengangkat kepalan tangan mereka, tanda siap sedia melanjutkan pembahasan RUU hingga titik darah penghabisan.

Semakin pesimis.

Lalu bagaimana mahasiswa menyikapinya? Selain disibukkan dengan kuliah online dan tugas yang tidak pernah habis, mahasiswa terforsir pikirannya untuk terus survive terutama bagi yang berada di perantauan. Terforsir mengedukasi keluarga di rumah karena mereka sudah banyak yang terpapar paham Jabariyah yang mengatakan “Hidup dan mati hanya Allah yang mengatur, bukan virus”, sehingga tidak mawas diri.

Rasa pesimis memang melelahkan, oleh karena itu jangan sampai kita biarkan. Kita perlu membangun rasa optimis, sebagaimana pandangan Martin Seligman bahwa optimis dapat muncul karena memandang peristiwa baik pada kehidupannya itu bersifat permanen sedangkan peristiwa buruk pada kehidupannya hanya bersifat sementara. Ringkasnya adalah kita harus berprasangka baik.

Hal ini yg coba penulis lakukan. “Berprasangka baik”. Ini hanya sementara. Jangan khawatir. Wabah penyakit ini akan berlalu. Di China hanya hitungan bulan, dan semoga Indonesia pun demikian. Tapi pikiran logis mengatakan: iya China bisa selesai dalam hitungan bulan karena pemerintahnya sudah sangat siap dan serius mengatasinya.

Beda dengan pemerintah Indonesia yang sempat mengatakan bahwa Corona tidak akan masuk ke Indonesia karena susah izinnya, Corona dapat ditangkal dengan doa qunut, dan juga diminta untuk enjoy saja menghadapi Corona.

Saya coba kembali untuk berprasangka baik menanggapi DPR yang tetap membahas RUU Omnibus Law. Bisa jadi karena itu merupakan amanah presiden untuk memudahkan investasi dan memotong jalur birokrasi. Demi rakyat. Selain itu pula keputusan tidak bisa begitu saja diputuskan, harus suara mayoritas untuk meloloskan RUU itu.

Tapi pikiran jernih mengatakan: DPR adalah DPR, tidak ada kepentingan rakyat setelah pileg, yg ada hanyalah kepentingan elit, elit. dan elit. Selain itu oposisi pemerintahan hanyalah Rocky Gerung, Haris Azhar, hingga Said Didu.

Pada akhirnya saat ini Indonesia sedang diliputi hal-hal yang negatif dan pesimisme. Jangan pernah berharap banyak kepada pemerintah, bantulah diri sendiri dan bantulah orang lain.

*M. Hasnan Nahar, Ketua Umum DPD IMM DIY, Dosen Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta.

Foto: Tempo

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *