Gethok Tular

Oleh : Afnan Hadikusumo

Bagi penggemar gudeg, di kampung Kauman tempat berdirinya Muhammadiyah ada penjual gudeg legendaris. Sejak saya masih kecil sudah berjualan di situ. Lokasi jualannya tepat di depan mushola puteri ‘Aisyiyah. Dagangannya sangat laris karena cita rasanya yang mak nyus. Buka lapak jam 06.30 sudah ludes jam 09.00. Penggemarnya bukan hanya yang berdomisili di Kauman saja, bahkan sampai di luar propinsi DIY.

Bagi alumni Universitas Gadjah Mada atau IKIP Negeri (sekarang UNY) pasti tidak asing lagi dengan warung “SGPC” singkatan dari Sego Pecel. Dulu warung ini kegemaran mahasiswa di sekitaran wilayah Condongcatur tapi untuk saat ini penggemarnya bukan saja warga Yogyakarta tapi juga dari propinsi lain. Para praktisi kuliner tersebut tidak pernah pasang iklan besar-besar, misalnya baliho, spanduk, atau pasang iklan di televisi maupun radio, karena anggaran promosinya tidak ada. Kekuatan promosinya melalui Gethok Tular (dari mulut ke mulut).

Masih ingat film Laskar Pelangi? Film garapan sutradara Riri Riza dirilis pada 26 September 2008. Film Laskar Pelangi merupakan karya adaptasi dari buku Laskar Pelangi yang ditulis oleh Andrea Hirata. Film ini telah ditonton oleh 4,6 juta orang, menjadikannya film terbanyak ditonton di Indonesia keempat, setelah Jelangkung dengan 5,7 Juta, Pocong 2 dengan 5,1 Juta, dan Ada Apa Dengan Cinta dengan 4,9 Juta.

Menurut Mira Lesmana sebagai produsernya, produksi film ini menghabiskan biaya Rp 9 miliar dan 90 persen dikerjakan di dalam negeri. Sound mixing dengan sistem Dolby dan transfer optis untuk suara belum bisa dikerjakan di dalam negeri. Andai saja keuntungan diambil dari tiap penonton 10.000 rupiah maka uang yang masuk dari penjualan tiket sekitar 46 Milyar…!!!! Kekuatan promosinya melalui baliho, spanduk dan leaflet, tapi itu belum ada apa-apanya dibandingkan dengan promosi gethok tular oleh para tokoh dan aktivis Muhammadiyah yang merekomendasikan film ini layak untuk ditonton.

Begitu kuatnya gethok tular ini, sehingga di zaman Orde Baru, penguasa menggunakan informal leader (tokoh masyarakat) untuk ikut serta mempromosikan program pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah. Begitu kuatnya pengaruh tokoh lokal ini sehingga pada saat itu ada pemberian reward kepada tokoh-tokoh lokal yang sukses membantu program pemerintah.

Mengingat begitu besar pengaruh gethok tular ini, mengingatkan kita agar lebih berhati-hati dalam menjaga perkataan dan pernyataan terutama di kalangan para tokoh masyarakat. Saat ini berita hoax sangat banyak berseliweran, bahkan ada beberapa tokoh nasional yang terjebak dengan berita hoax tersebut. Cek dan ricek penggunaan nalar atas suatu berita harus selalu dilakukan untuk mencari kebenarannya. Karena gethok tular bukan saja bisa menaikkan NAMA tapi juga bisa mematikan karakter seseorang ataupun suatu produk.

Afnan Hadikusumo, Ketua Umum PP Tapak Suci, alumni IMM UGM

Sulaiman Said
Latest posts by Sulaiman Said (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *